Sewaktu kuliah tingkat awal, saya punya seorang teman yang konvensional baik dari segi penampilan maupun gaya hidup (baca: tipikal anak pesantren dari dusun). Suatu hari kami berdua belanja di minimarket yang saat itu lumayan penuh. Beberapa konsumen mengantri di meja kasir. Sampai kemudian pandangan teman saya yang lelaki itu tertuju pada sederet kotak-kotak mungil dengan gambar buah segar. Dia pun mengambil salah satunya dan sumringah berkata, “ini minuman serbuk baru yah? Beli, ah!”
Dan otomatis semua konsumen pun nyengir, dan menutup mulut mereka yang tertawa. Sebagian lagi malah nunduk malu. Saya sebagai temannya pun malu, dong. Dan kepengen cuekin dia saat itu. Dan dia pun membawa sekotak apa yang dianggapnya sebagai kotak minuman serbuk dalam keranjang belanjaannya. Dan sesampainya kami di meja kasir, saya pun menjelaskan. Kalau itu adalah kondom.
Sialnya dia tidak tahu kondom itu apa. Saya pun mingkem dan menjelaskannya usai transaksi. Saya pun menjelaskan dan pahamlah dia. Meski dia kemudian bertanya, “kalau buat gituan, kenapa ada rasanya? Emang kondom dimakan juga? Atau jangan-jangan itu lubang ehem-ehem suka sama aroma buah? Kalo suka mungkin kalo udah punya istri, otong saya kayaknya harus diolesi selai buah sebelum dimasukin. Heuheu..”
Dan saya pun berharap ditelan Mak Enti.
Kenapa Harus Ada Kondom Rasa Buah Pula Bergerigi?
Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi (pengaman dari risiko kehamilan) yang terbuat dari karet, lateks, plastik atau usus kambing (kondom zaman dulu). Belakangan kondom memiliki banyak bentuk, warna, dan rasa. Ada yang bergerigi, berbintik, atau ekstra tipis. Jauh sebelum itu, kondom yang memiliki rasa pun tersedia. Biasanya rasa buah populer yang sering dikonsumsi manusia.Nah, pertanyaannya adalah kenapa harus memiliki rasa? Jawabannya mungkin akan terdengar menjijikan. Tapi oral seks atau memanjakan Mister Pepen dengan mulut bagai ritual pasangan sebelum penetrasi. Dengan menggunakan kondom beraroma, si pengoral mungkin bisa lebih menghayati perannya =-=’. Dan sebenarnya kondom itu tidak seperti halnya rasa buah, namun hanya sebagai rasa. Bahan kondom masih terasa namun aroma buahnya tercium. Sensasi rasa buah dianggap membuat si pengoral merasa nyaman dan rileks. Apa mungkin untuk menghindari bau asem Mister Pepen? Entahlah. Tapi begitulah sebuah produk, ada saja varian-varian untuk memuluskan penjualan.
Selain rasa, yang mengherankan lagi adalah kondom dengan berbagai bentuk permukaan. Ada yang bergerigi, berbintik, atau kondom dengan bahan tipis. Kondom dengan gerigi atau bergelombang atau menyembul dan sejenisnya, dianggap akan memberi sensasi tertentu pada dinding Miss Vivi (lubang ‘cinta’). Bahkan ada pula kondom dengan getar yang mungkin akan membuat si ‘yang direngkuh’ mampu sampai ke surga dunia tingkat kecamatan. Belum lagi ada kondom ‘baggy’ yang dinilai akan membuat Mister Pepen tampak lebih gemuk.
Meski banyak varian, warna maupun rasa, tapi masyarakat timur pada khususnya, belum memiliki kesadaran menggunakan kondom. Karena memegang adat ketimuran, pembeli kondom identik dengan pezina alias perbuatan yang dikutuk Tuhan bin dilarang agama. Enggak heran masih banyak para remaja yang hamil di luar nikah karena mereka tidak memakai pengaman saat berhubungan intim. Dan tentu saja karena pendidikan seks di Indonesia terutama, bisa jadi semacam dua sisi mata uang. Satu ada kesan mendukung seks bebas, satu lagi adalah larangan keras melakukan hubungan seks tak bertanggung jawab.
Selain itu, kondom dianggap mengurangi kenikmatan hubungan intim. Tekstur kondom yang sudah tipis itu dianggap tidak memuluskan aksi penterasi dan gesekan. Tidak heran adapula lelaki yang ‘jajan’ sembarangan dan berisiko tertular PMS (penyakit menular seksual) bahkan HIV lantaran tidak mau ‘berselimut’. Apalagi bagi pelaku yang gemar gonta-ganti pasangan.
Stigma Kondom
MEMBELI kondom dianggap hal yang memalukan dan sebuah ‘aib’ bagi kebanyakan masyarakat Indonesia terutama. Ini karena kondom sudah terkena stigma sebagai media seks bebas. Sementara sosialisasi penggunaan kondom memang marak dilakukan terutama bagi penganut seks bebas atau pengonsumsi wisata berahi yang keberadaannya seperti fenomena gunung es. Sayang sosialisasi ini terkhusus di Indonesia selalu dianggap bertentangan dengan norma dan agama. Di satu sisi dianggap memberi peluang besar bagi masyarakat untuk berhubungan seks bebas secara aman, di sisi lain sosialisasi penggunaan kondom dianggap cara efektif untuk menurunkan angka kehamilan di luar nikah, mengontrol populasi, mengurangi angka kematian ibu muda karena aborsi, dan menurunkan angka ODHA.
Dan memang sebaiknya hubungan seks selalu harus didasari oleh tanggung jawab dan berada di dalam norma-norma agama dan kepatutan. Perlu diketahui bahwa kondom berisiko bocor dan beberapa kondom dengan bahan tertentu dianggap tidak efektif mencegah virus-virus HIV.
Dari cerita sebuah forum misalnya, seorang lelaki menghamili pacarnya sementara ketika sedang melakukan hubungan seks, dia selalu menggunakan kondom. Belakangan diketahui kalau persediaan kondomnya diketahui teman lelakinya. Dan kondom itu pun dibocorkan dengan cara menusuknya dengan jarum pentul. Dan VOILA! Sperma pun memasuki sel telur.
Repost by: pengobatan hepatitis & obat kelenjar getah bening